Posts

Kamu Baik : cuma buat pribadi terus, kalo ga, malah kelewatan buat orang lain

Kalo (tanpa sadar) masih khawatirin diri sendiri terus? Kapan tuh kaki bakal melangkah maju. Kamu baik, Wah. Kamu lelaki satu-satunya di rumah. Mungkin karena itu juga, kamu kesampingkan semua kebahagiaanmu pribadi. Mungkin.. Ini menurutku sih. Semua orang bebas berpendapat, kan?! Jika ada yang tidak tepat, beritahu. *** Kalo malah kuatirin orang lain terus? Sampe serasa udah punya tanggungjawab penuh buat kebahagiaannya.. kesehatannya.. kenyamanan.. kesempurnaan hidupnya Capek ga sih? Engga? Apa belom? apa udah capek tapi bodo amat?  berbuat baik ke sesama kan wajib. gaada batesnya / kalo mau dapet kebaikan ya harus baikin orang dulu / 1 musuh galebih banyak dari 1000 teman..dst apapun itu. Bener. Bahkan rosul aja baikin orang yg jahatin Beliau. Ya Emang... Tapi apa Beliau jadi gasayang sama pribadinya sendiri?  Kebahagiaan, kesehatan, ketentraman hidupnya sendiri? Kebahagiaan macam apaa yg mau dibagi? Kalo yang bagi.. sumbernya.. orangnya.. akunya ...

At Thoh Iriyah

Semua berawal ketika aku angkat tangan, tidak sanggup lagi hidup di salah satu pondok pesantren salafi yang ada di dekat sekolah dulu. Sebab belum mendapat kepercayaan untuk tinggal di kos, akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus mencari tempat serupa (dengan catatan prinsip dariku: Aku di sana Sekolah sambil Mondok. Bukan sebaliknya). Akhirnya dengan beragam pertimbangan, jatuhlah pilihan kami (aku, temanku, juga keluarga) ke pondok yang paling baru di antara yang lain, At-Thohiriyah. Pondok pesantren yang sebenarnya ditujukan untuk para penghafal Al-Qur'an ini berdiri di sebelah timur rumah pribadi Abah (panggilan untuk Kyai sekaligus pendiri). Saat aku datang, gedung pondok itu tampak belum sepenuhnya jadi. Gedung yang memanjang ke selatan dengan pintu depan masih terbuat dari bambu itu baru memiliki 5 ruangan dengan beragam ukuran. Yang paling utara, sekitar 5x6m untuk kamar santri putra. Sebelahnya, ruang dengan fasilitas terbanyak(bed, tv, kipas, dsb), ruan...

Orang Baik yang Yakin Dirinya Baik

Image
Istna Kurnianta Awalnya kukira nama itu harusnya "Istana" tapi typo 😅. Dan dalam bayanganku, sang pemilik nama adalah seorang wanita. Hahhaa aku salah. Memang sengaja kusalah-salahkan. Entah kenapa. Aku suka sekali menggodanya(jahil). Dia pun pasti membalasku, dan biasanya lebih parah dari kejahilanku. Tangkapan layar dari story WhatsApp ibuk "Pleh" panggilan akrabnya. Kumpleh  bibirnya, kata orang-orang. Bibir bawahnya itu.  Relasi sosialnya dapat menembus batasan-batasan usia. Jujur agak heran melihat Istna melakukan kejahilan serupa untukku kepada neneknya. Sejahil-jahilku pun tidak akan bertindak 'kurang ajar' begitu. Takut kualat. wkwk. Tapi sepertinya ada pengecualian untuk Istna -dan keluarga mungkin.  Istna punya idealisme yang menurutku lebih mature daripada kakaknya, mas Ivan. Dia mampu mengatur keuangan, -sepertinya- ringan dalam membantu(minjemin uang) orang lain, bahkan bisa menabung juga. Keren kau Pleh.  Nama kontakny...

Menuju 50 Hari yang Istimewa dalam Hidup

Kuliah Kerja Nyata (KKN)  menjadi salah satu mata kuliah wajib di kampusku. Artinya semua mahasiswa pasti akan merasakan masa hidup bersama orang baru, di lingkungan baru -jauh, daerah pelosok biasanya. Namun belakangan KKN sudah memiliki banyak variasi capaian (KKN tematik). Bukan melulu di 'wilayah terpencil' lagi yang program kerjanya tidak jauh seputar fisik saja (kerja bakti, posyandu, PKK, dsb). Tapi sudah merambah pada menggali sampai memberdayakan potensi-potensi daerah KKN.  Jadi tinggal tentukan sesuai passion masing-masing saja. Kebetulan tema yang ditawarkan pada KKN tematik angkatanku masih terbatas dan belum ada yang begitu menarik. Sehingga aku memilih tetap pada koridor KKN reguler (fisikal fisikal ituu).  Tibalah waktu diumumkannya pembagian kelompok KKN reguler yang lumayan mundur dari jadwal semestinya. Tinggal beberapa hari sebelum program KKN resmi dilaksanakan. Sempat terbesit, " pengumuman mundur, apa KKNnya juga bakal mundur ya?"w...

Sahabat Sejati Cuma (Boleh) Ada Satu ?

Image
 "Yang namanya sahabat itu ya cuma satu. Kalau lebih dari itu namanya teman. Lebih banyak lagi disebut kenalan" Kurang lebih demikianlah intermeso dosen yang kukagumi di sela penyampaian materi. "Saya sendiri banyak yang mengakui saya sebagai sahabat, "Kamu itu sahabatku, Tar(mungkin teman-teman beliau menyapa dengan sebutan tersebut-bisa jadi "Si" atau "Sian" juga sih)" banyak.." terang pak Siant. "Tapi bagi saya sendiri, saya punya sahabat. Dan itu cuma satu." lanjut beliau. Beliau tipikal dosen yang usianya cukup matang di program studi saya. Kalau lihat NIP-nya, beliau lahir tahun 1960. Mungkin paling matang malahan. Jelas sudah mengalami asam-garam, pasang-surut kehidupan. Toh  memang sering aku baca, influencer-influencer  baik tweet  di Twitter maupun caption  di Instagram, bahkan tweet  yang di capture  dan diunggah ulang di feed  Instagram bertuliskan : "Makin tua, makin sedikit circle nya. Karena makin tau, kua...

Datang Akan Pergi, Lewat Kan Berlalu..

...ada kan tiada, bertemu akan berpisah... merupakan penggalan bait lagu Sampai Jumpa yang dipopulerkan oleh Endank Soekamti yang rilis pada Februari 2016 dalam album Soekamti Day. Jujur saat pertama kali saya mengetahui lagu ini adalah ketika Putra Daerah Lamongan, sekaligus kapten tim sepakbola andalan Laskar Joko Tingkir -PERSELA, Choirul Huda dilaporkan meninggal karena insiden di lapangan Surajaya[15/10/17] dan lagu ini menjadi backsound penghormatan terakhir untuk sang Legenda .   Yap , hampir 2 tahun setelah lagu ini rilis dan aku baru mengetahuinya. Kuakui referensi musikku memang kurang. Tapi aku tidak sedang me review lagu ini. Sebab kita punya opini dan sudut pandang masing-masing. Kebanyakan orang pasti setuju jika lagu Sampai Jumpa ini akan menangis -paling tidak terenyuh, jika mengingat teman semasa sekolah dulu, ataupun orang-orang terkasih kita yang telah kembali keharibaan-Nya. Untuk yang telah berlalu.. Orang asing yang masuk ke hidupku da...

Hallo Amatir.. Tumbuhkan Motivasi (Untuk jadi Profesional)

Aku adalah seorang amatir. Amatir dalam segala hal. Dengan kata lain, aku belum tau apa bakat maupun minatku. Aneh, bukan? Untuk ukuran mahasiswa semester 3 sepertiku.  Hmm maybe I ’ m too late for develop it. But I believe that better late than never . Mungkin slogan itu juga menjadi ‘si malakama’ buatku. Di satu sisi aku percaya aku akan menemukan my passion – entah kapan itu. Sedangkan di sisi lain aku hanya mempercayainya tanpa adanya motivasi dan semangat untuk mewujudkannya. Terkadang aku iri dengan orang-orang. Mereka yang terlahir cantik dan bertalenta. Paling tidak, paras ayu itu – although without talent , sudah menjual. Ah, mudahnya hidup mereka. Sering sekali aku berpikiran seperti itu (tanda-tanda orang kurang bersyukur memang. Jangan ditiru) Jujur, pikiran seperti itu sudah mulai berkurang walau tidak dapat dipungkiri, masih saja ada. Sesekali. Apalagi ketika urusannya p-e-r-a-s-a-a-n. Aku selalu kalah dengan mereka. Entah aku yang mudah baper atau hanya kagum ...